Ibu adalah sesosok mahluk Tuhan yang sangat mulia. Ia rela mengorbankan segala-galanya demi anak-anak yang dicintainya. Seorang ibu rela bersusah payah dan tanpa mengeluh mengandung anaknya selama sembilan bulan dan ibu rela menahan sakit bertarung dengan azal untuk melahirkan anak yang dikandungnya. Setelah sang anak lahir, ibu selalu tersenyum menatap anaknya yang dulu dikandungnya. Ibu tidak sedikit pun meminta upah atas beban berat yang ia derita selama sembilan bulan.
Setelah sang anak lahir, seorang ibu dengan ikhlas akan selalu menjaga dan merawat anaknya. Di kala sibayi mengompolinya atau buang air besar dipangkuannya, ibu tidak pernah marah. Panggilan sayang akan selalu keluar dari kedua bibirnya yang mulia meskipun si bayi membuang kotoran dipangkuannya.
Di kala sang anak bertambah besar, do’a-do’a ibu selalu menyertai tiap langkah sang anak, apabila sang anak melakukan kesalahan, ibu akan dengan mudah dan penuh keikhlasan memaafkan semua kasalahan sang anak. Apabila sang anak menghadapi sebuah masalah, ibu tidak akan pernah tinggal diam, ia akan mencari seribu macam cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anaknya. Apabila sang anak bersedih, belaian lembut ibu akan selalu menentramkan hati sang anak. Apabila sang anak melakukan kesalahan pada dirinya, ibu tidak akan cepat marah, ia akan memaklumi dan memahami alasan sang anak melakukan kesalahan sehingga dengan cepat ia memaafkan kesalahan anaknya. Itulah seorang ibu. Do’a-do’anya akan selalu meluncur deras mengiringi setiap langkah kita di kehidupan ini.
Alangkah indahnya, apabila para guru meneladani seorang ibu dalam mendidik dan mengasuh anak didiknya. Mungkin apabila seorang guru mau meneladani seorang ibu dalam mendidik siswa-siswinya, tidak akan pernah lagi kita dengar murid yang membenci gurunya, tidak akan kita jumpai suasana mengajar yang mirip dengan latihan militer, tidak akan pernah kita mendengar umpatan dan cacian guru pada murid-muridnya yang dianggap bodoh.
Untuk meneladani seorang ibu dalam mengajar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Cinta ibu adalah cinta sejati
Seorang ibu akan sangat tulus mencintai anaknya. Cinta ibu adalah cinta sejati, cinta ibu tidak kenal lelah memberi, cinta ibu tak kenal harap akan balas jasa dari anak yang telah ia asuh dari sejak kecil sampai dewasa.
Dalam mendidik murid-muridnya, seorang guru layaknya mendasari pekerjaannya dengan cinta sejati, sama seperti cintanya ibu pada anaknya. Seorang guru harus tulus mencintai muridnya, dari cinta sejati akan lahir kasih sayang yang tulus dan tidak direkayasa. Apabila seorang guru mampu mencintai muridnya dengan tulus dan memberikan kasih sayang pada semua muridnya, pelajaran yang ia sampaikan akan langsung diterima oleh hati murid-muridnya dan akan membekas sampai ia dewasa kelak.
2. Ibu akan selalu memahami kesalahan yang dilakukan anak sebagai proses pembelajaran.
Seorang ibu akan senantiasa memahami setiap kesalahan yang dilakukan oleh anaknya sebagai sebuah proses pembelajaran, ia akan memberitahukan pada anaknya dengan arif bahwa hal itu adalah salah dan ia akan segera memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh anaknya.
Sudah selayaknya seorang guru mau memahami kesalahan yang dilakukan oleh murid-muridnya sebagai proses pembelajaran. Ia tidak cepat memponis bahwa muridnya bodoh, tidak sopan, nakal dan lain sebagainya. Ia harus dengan arif memberi tahukan kesalahan yang dilakukan oleh muridnya dan meluruskannya dengan penuh kasih sayang. Apabila seorang guru melakukan hal yang demikian, secara tidak langsung ia telah mengajarkan pada siswa-siswanya bahwa kesalahan dan kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan orang yang terbaik atau yang berhasil, bukanlah mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan mereka yang selalu bangkit dan segera memperbaiki diri apabila mereka terjebak pada kesalahan yang mengakibatkan kegagalan.
3. Do’a ibu untuk anaknya tak kenal henti
Do’a ibu untuk anaknya adalah do’a yang paling tulus dan tak kenal henti. Ketika anaknya terlelap tidur, dalam sujud-sujudnya selalu terselip do’a untuk anak tercinta agar anaknya menjadi seseorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
Seorang guru selayaknya selalu mendoakan murid-muridnya dengan tulus, ketika untaian do’a keluar dari hati seorang guru, di saat itu akan terbangun hubungan yang tulus antara guru dan muridnya. Hubungan yang tidak terbatas pada hubungan formalitas antara guru dan murid, tetapi hubungan yang terjalin adalah hubungan dari hati ke hati yang dilandasi ketulusan, cinta dan kasih sayang. Apabila seorang guru mampu membangun hubungan batin yang harmonis, maka nasihat dan pelajaran yang disampaikan olehnya akan selalu diingat dan dikuasai oleh siswa-siswanya dan apabila siswa tersebut kesulitan untuk memehami pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, maka ia akan bekerja keras untuk menguasainya karena ia takut mengecewakan gurunya yang sudah membimbingnya dengan penuh ketulusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar