Yang berbeda hanyalah penunjukannya, aku adalah orang pertama sedangkau kau adalah orang kedua
Aku dan Kau adalah orang yang sama-sama mencari kebahagiaan dalam satu biduk rumah tangga
Yang berbeda hanyalah aku sebagai suami yang ditugasi menjadi Qowwam dalam biduk rumah tangga, sedangkan Kau menjadi Istri yang bertugas mendampingi sang Qowwam.
Aku dan Kau adalah sama-sama Orang tua
Yang berbeda adalah aku menjadi Ayah dan Kau menjadi Ibu yang harus sama-sama membesarkan mutiara hati Amanah Sang Kholiq dengan sepenuh hati
Aku dan Kau adalah sama, tidak akan pernah berbeda
Belajar adalah kata-kata yang sudah sering kita dengar sejak kita di taman kanak-kanak sampai kita di perguruan tinggi. Kata-kata belajar tidak pernah hilang dari pendengaran kita. Pengertian belajar yang kita fahami selama ini mungkin hanya diartikan sebagai rutinitas sekolah seperti membaca, menulis, mengerjakan tugas, kerja kelompok dan yang lainnya. Belajar juga sering diartikan hanya transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan).
Menurut beberapa ahli, pengertian belajar apabila dimaknai lebih dalam mempunyai arti yang sangat dalam. Belajar tidak sebatas pengerjaan rutinitas sekolah, atau tidak sekedar transfer pengetahuan. Menurut beberapa ahli belajar dapat didefinisikan sebagai “proses perubahan diri” dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak sopan menjadi sopan, dari tidak berdaya menjadi berdaya bahkan menjadi sumber daya.Menurut penulis, inilah pengertian belajar yang paling tepat. Apabila kita mendefinisikan pengertian belajar sekedar proses transfer pengetahun saja, ini akan berakibat pada tidak adanya kesadaran untuk melakukan perubahan pada diri sendiri apabila proses belajar telah kita tempuh. Kita merasa sudah cukup apabila berbagai pengetahuan sudah ada di otak kita dan kita tidak akan berupaya untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan inilah yang mengakibatkan tidak adanya perubahan diri setelah kita melakukan proses pembelajaran.
Apabila kita memahami belajar sebagai proses perubahan diri, ini akan berdampak pada pola belajar kita. Kita akan menganggap bahwa apabila pelajaran sudah kita kuasai itu bukan berarti kita sudah menguasai pelajaran tersebut, namun itu adalah awal bagi kita untuk melakukan proses perubahan diri dengan cara mengimplementasikan hal yang baru saja kita pelajari pada kehidupan nyata.
Apabila kita mencoba membuat klasifikasi tentang tipe belajar, kita dapat membagi belajar ke dalam dua tipe yaitu belajar tentang dan belajar menjadi. Dua tipe belajar ini dapat kita analogikan kepada contoh berikut. Seorang siswa mempelajari tentang sopan santun. Ia dapat menguasai semua teori tentang sopan santun sehingga di ulangan mata pelajaran sopan santun ia mendapat nilai 10. tetapi ketika ia bertemu dengan gurunya atau orang tuanya ia bertindak tidak sopan. Ini berarti siswa ini baru belajar tentang sopan santun belum belajar menjadi sopan dan menjadi santun. Apabila siswa ini sudah belajar menjadi sopan dan menjadi santun, maka selain dalam ulangan dia mendapat nilai 10, dia juga berlaku sopan pada orang tua, guru dan teman-temannya.
Belajar tentang dapat diartikan dengan mempelajari berbagai teori pengetahuan tanpa berusaha mengamalkan apa yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan belajar menjadi dapat diartikan dengan mempelajari berbagai teori ilmu pengetahuan disertai dengan kemauan keras untuk melaksanakan semua yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila kita kaitkan dengan keislaman kita, kita sering menjumpai bahkan mungkin diri kita yang termasuk tipe orang yang baru belajar tentang islam, belum belajar berislam. Orang yang baru belajar tentangIslam sangat mengusai semua teori tentang berbagai syariat Islam, tetapi berbagai ilmu tentang keislaman tersebut tidak membuat dirinya menjadi soleh dan menjadi lebih islami. Ilmu keislaman yang ia peroleh ia jadikan sebagai modal untuk mencari popularitas di kalangan manusia bahkan ia menjadi sombong dan merendahkan orang lain dengan ilmu keislamannya. Sementara orang yang belajar berislam, bisa jadi pengetahuan keislamannya masih sedikit tetapi ia berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan apa yang telah ia pelajari dalam kehidupan kesehariannya. Ia tidak pernah meminta dan mengharap keridoan manusia tetapi yang ia harapkan hanyalah keridoan Allah Robb semesta alam.
Menurut Hernowo, penulis buku Self Digesting, manusia dalam mencari ilmu terbagi ke dalam dua tipe. Ada yang mencarinya dengan hati yang melenceng dari fitrahnya, banyak melakukan maksiat, sering sombong dan lain sebagainya. Sehingga ketika ia menguasai ilmu tersebut maka ilmu itu tidak menjadi cahaya bagi dirinya dan ia menjadi sombong dengan ilmunya. Tipe kedua adalah orang yang mencari ilmu dengan tetap berpegang pada fitrahnya sebagai seorang hamba, ia mencarinya dengan ikhlas dan penuh ketulusan. Apabila tipe orang kedua ini mendapatkan ilmu, maka ilmunya akan menjadi cahaya bagi dirinya dan mencerahkan dirinya sehingga dengan ilmu yang ada pada dirinya ia tidak menjadi sombong tetapi ia semakin rendah hati dan semakin terpacu untuk mengamalkan apa yang sudah ia pelajari.
Orang yang belajar tentang islam, sering mencari ilmu dengan modal kesombongan sehingga ketika ilmu-ilmu keislaman ada pada dirinya, ia sama sekali tidak tercerahkan dengan ilmunya dan ia juga tidakberupaya untuk merubah dirinya supaya lebih islami bahkan ia menjadi sombong atas ilmunya. Apabila ia berinteraksi dengan orang lain, sering kali ia merendahkan orang yang berinteraksi dengannya. Sementara orang yang belajar menjadi Islam, ia mempelajari ilmu-ilmu keislaman dengan tetap berpedoman pada fitrahnya, ia selalu tulus dan sungguh-sungguh dalam belajar. Apabila ilmu keislaman tersebut sudah ada pada dirinya, ia akan semakin tercerahkan dengan ilmunya dan ia akan bermujahadah untuk selalu mengamalkan (menjadi) apa yang telah ia kuasai sehingga ia menjadi lebih islami dan lebih tawadhu.
Di manakah posisi kita ? apakah kita orang yang baru belajar tentang Islam atau orang yang belajar menjadi Islam.
Menurut Andrias Harepa (2000:149-150) mendefinisikan kepemimpinan ibarat mengisi sebuah teka-teki silang seukuran dua belas halaman pada sebuah harian dengan ribuan kolom mendatar dan menurun. Begitu banyak kolom yang harus diisi sehingga belum seorang pun yang mampu menjawab semua pertanyaan yang ada. Setiap definisi yang jumlahnya mungkin asama banyak dengan jumlah tulisan mengenai kepemimpinan memperlihatkan bagian tertentu yang tetap kosong dan belum terisi. Kepemimimpinan ibarat musik yang tak mungkin dikurung dalam sebuah nada (definisi). Atau ibarat lukisan yang tak mungkin dipenjara oleh satu tafsiran makna. Hal ini membuktikan begitu bergamnya definisi tentang kepemimpinan.
Menurut William Cohen kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain untuk melakukan unjuk kerja maksimum guna menyelesaikan suatu tugas, mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan sebuah proyek. Definisi ini memberi gambaran pada kita bahwa kepemimpinan merupakan sebuah seni mempengaruhi orang lain agar orang tersebut dapat melakukan apa yang sudah ditetapkan oleh sipemimpin tersebut. Mungkin depinisi ini cocok diterapkan bagi seorang atasan kepada bawahannya namun kurang cocok bagi seorang ustad atau karyawan biasa yang mempunyai sipat kepemimpinan dalam dirinya karena seorang ustad atau karyawan biasa yang mempunyai jiwa leadership dalam melakukan hubungan dilingkungan mereka bersifat horijontal artinya sejajar dan tidak bisa memaksakan otoritas tertentu terhadap lingkungannya.
Menurut Rose Perotkepemimpinan adalah pemberdayaan sekelompok orang agar berhasil mencapai suatu sasaran bersama. Dalam melakukan hal itu anda harus menyentuh seluruh potensi mereka. Sedangkan menurut John P. Kotter Kepemimpinan adalah kemampuan menetapkan suatu arah yang adapat dirasakan, membuat orang-orang menyelaraskan diri ke arah itu, dan memberi mereka kekuatan untuk mencapainya dengan cara apapun.
Dalam dua definisi kepemimpinan di atas terdapat3 faktor yang harus ada dalam kepemimpinan yaitu :
Pertama: Penetapan visi. Yang termasuk ke dalam faktor pertama ini adalah tujuan, sasaran dan hasil yang akan dicapai. Seorang pemimpin harus mempunyai visi yang jelas yang akan dicapai. Karena tanpa kejelasan sebuah visi tidak mungkin orang mau dipimpin danandaikan orang mau dipimpin, tentunya kepemimpinannya tidak akan berjalan efektip dan epesien. Selain itu seorang pemimpin juga harus mampu menetapkan tahapan proses yang akan ditempuh untuk mencapai visi dan tujuan yang telah ditetapkan.
Kedua :pemberdayaan. Seorang pemimpin harus mampu memberdayakan orang yang dipimpinnya dari tidak berdaya menjadi sumber daya. Menjadi seorang pemimpin secara otomatis dia harus menjadi seorang pendidik yang mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada pada orang yang dipimpinnya agar mampu mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkannya. Pemimpin yang efektip adalah pemimpin yang mampu menganalisa potensi yang ada pada orang yang dipimpinnya dan berupaya membimbing orang tersebut untuk senantiasa mengembangkan potensi yang ada padanya dan memberikan pekerjaan kepada orang yang dipimpinnya sesuai dengan potensi atau keahlian yang ada padanya. Dengan demikian tujuan yang telah ditetapkan bersama akan tercapai dengan efektip dan efesien.
Ketiga : mengerahkan orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin harus mampu mengarahkan dan mengawasi orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk itu, seorang pemimpin dituntut untuk mampu melakukan super visi dan evaluasi terhadap kinerja orang orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus mampu mengevaluasi keberhasilan pencapaian tiap tahap dalam proses pencapaian tujuan secara umum. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyimpangan dalam proses pencapaian tujuan bersama yang telah ditetapkan.
Menyimak penjelasan di atas, kita mendapat gambaran yang mendasar yaitu kepemimpinan merupakan suatu hal yang dapat dipelajari dan dikembangkan, mulai dari diri sendiri menuju ketingkat-tingkat yang paling tinggi dengan pengaruh yang semakin membesar dalam arti mencakup kepentingan-kepentingan, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan keinginan-keinginan yang lebih beragam.
Pergeseran paradigma ini tentu saja mengubah pemahaman tentang siapakah yang layak disebut sebagai pemimpin. Sebab ketika kepemimpinan tidak lagi dipahami sebagai sebuah kedudukan atau jabatan, tetapi sebuah tanggung jawab, pekerjaan atau peran, maka orang-orang memegang jabatan tinggi seperti manajer dan eksekutip puncak disebuah perusahaan (juga pejabat negara, presiden, raja) belum tentu layak disebut sebagai pemimpin. Sebaliknya orang-orang yang tidak memiliki jabatan tetapi melakukan pekerjaan dan menunjukan tanggung jawab serta memainkan peran sebagai pemimpin, ia adalah pemimpin sejati. Dalam pengertian pemimpin yang terakhir ini yang namanya pemimpin dapat mencakup para seniman, sastrawan, kiai, filosop, intelektual, atau pun karyawan biasa yang tidak memiliki bawahan secara formal tetapi ia dapat mempunyai pengaruh dan selelu diperhitungkan semua tindakan dan masukannya, ia layak disebut sebagai pemimpin.
B.Pengertian Kepemimpinan Menurut Pandangan Islam
Dalam literatur islam, kata pemimpin dapat ditemukan padananya dalam beberapa kata seprti rais, rain, khalifah dan imam. Kata-kata tersebut walaupun arti secara harfiah berbeda-beda tetapi mengarah pada pengertian yang sama yaitu menyangkut kepemimpinan
Kata rais berarti ketua, kepala, presiden. Kata rain berarti pengambala, khalifah berati pengganti, sedangkan imam menurut Abdulah Bin Qasim Al-Wahsyi (2001:202) adalah seseorang yang diikuti, orang yang menjadi suri tauladan dan orang yang meluruskan dan memperbaikinya. Apabila kita merujuk pada kata-kata tersebut kita akan mendapat gambaran bahwa yang namanya pemimpin adalah orang yang memimpin sebuah komunitas (ketua, kepala daerah, presiden); orang yang mampu memberdayakan orang lain -dalam hadis, diibaratkan pengembala-; wakil atau pengganti (khalifah); atau orang yang selalu memberikan teladan dan selalu berupaya meluruskan kesalahan-kealahan orang yang dipimpinnya.
Makna hakiki kepemimpinan dalam islam menurut Jamal Madhi (2004:2) adalah untuk mewujudkan khilafah di muka bumi demi terwujudnya kebaikan dan reformasi.
Dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah disebutkan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk dijadikan khalifah di muka bumi. Manusia diberi tugas oleh Allah untuk memberdayakan (memimpin) apa yang ada di dunia ini sehingga mereka dapat mengambil manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi makhluk yang lainnya.
Kepemimpinan dalam islam harus tetap dijalankan walaupun dalam ruang lingkupyang kecil. Rasulullah bersabda :
Apabilatiga orang keluar untuk melakukan suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin (HR Anu Daud).
Para ulama Islam memprioritaskan topik kepemimpinan dengan perhatian khusus, karena itu merupakan salah satu daya dukung agama. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Siyasah Syari’iyyah mengatakan :
”Wajib diketahui bahwa memimpin urusan manusia termasuk kewajiban terbesar agama, bahkan tidak akan tegak agama kecuali dengannya. Sesungguhnya kepentingan anak-anak Adam tidak akan tercapai secara sempurna kecuali dengan perkumpulan, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dalam perkumpulan ini sudah seharusnya ada pemimpin.”
Diantara jenis kepemimpinan yang paling spesipik adalah kepemimpinan pendidikan (Qiyadoh tarbawiyah atau Educative Leadership), karena kesuksesan mendidik generasi, membina umat dan berusaha membangkitkannya terkait erat dengan terpenuhinya kepemimpinan pendidikan yang benar. Krisis yang mengepung umat Islam saat ini tiada lain karena hilangnya Murobbi (pendidik) yang teladan atau pemimpin tarbawi.
Hal yang telah disebutkan disebutkan di atas sesuai dengan ungkapan Al Imam Ghazali dalam ungkapannya :
“Seorang pelajar harus memiliki seorang guru pembimbing (Mursyid)yang dapat mengeluarkan akhlak yang buruk dari dirinyadan menggantikannya dengan akhlak yang baik. Ia juga harus memiliki seorang syaikh yang dapat mendidik dan menunjukan ke jalan Allah.”
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan efektip adalah kepemimpinan yang sang pemimpin yang menerjemahkan fungsi kepemimpinannya dengan perilaku. Efektipitasnya bukan karena seruan yang bisa membuat manusia tuli, atau teriakan yang memekakan dan menggema dimana-mana, tetapi terletak pada perilaku yang memperkaya pembicaraan, menerjemahkan tugas kepemimpinan dalam suasana yang penuh kehati-hatian dan ketenangan.
Para ulama berkonsensus bahwa inti efektivitas proses kepemimpinan terletak pada wibawa (pengaruh) interaktif antara pemimpin dan pengikutnya. Kepemimpinan yang sukses adalah yang mampu mempengaruhi perilaku individu-individu, untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target jamaah, mngembangkan, memegang teguh, dan menjaga kekuatan bangunannya.
C. Bagaimana Menumbuhkan dan Mengajarkan Kepemimpinan ?
Sesuai dengan uraian di atas, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang magis atau sesuatu yang tidak sembarangan orang memilikinya. Kepemimpinan adalah sebuat job atau keahlian yang dapat diajarkan pada orang lain. Sebetulnya banyak cara mengajarkan kepemimpinan pada orang lain, namun dalam uraian ini hanya akan diuraikan sebagian kecil tentang cara mengajarkan kepemimpinan pada orang lain diantaranya :
1. Memperkenalkan nilai-nilai leadership dalam agama
Islam adalah agama yang sangat kaya dengan nilai-nilai leadership. Untuk menumbuhkan kepemimpinan pada anak, perkenalkanlah nilai-nilai ledership ini pada anak. Sebagai contoh, ketika anak menjalankan shalat lima waktu, perkenalkanlah nilai-nilai kepemimpinan dalam shalat pada anak, dalam shalat ada imam dan ada makmum. Tugas imam adalah memimpin shalat sedangkan tugas makmum adalah mengikuti imam. Apabila imam salah, maka makmum wajib meluruskannya. Nilai-nilai seperti inilah yang harus diperkenalkan pada anak. Dengan diperkenalkan akan hal yang seperti ini, anak akan mengerti akan hakikat kepemimpinan yang sebenarnya. Mereka akan menyadari bahwa pemimpin wajib ditaati ketika mereka taat pada Allah tetapi apabila imam atau pemimpin melakukan kesalahan maka seorang makmum wajib meluruskannya dan apabila tidak bisa diluruskan atau melakukan hal yang sangat fatal dalam menjalankan kepoemimpinannya, maka makmum wajib mengganti imam atau pemimpin tersebut.
2. Meneladani para pemimpin (Al-Qudwah)
Dalam Al-Qur’anAllah mengajarkan kepada kaum muslimin agar selalu meneladani nabi Muhammad dalam semua hidupnya. Disebutkan dalam hadis bahwa ahlak Rasulullah merupakan implementasi dari ajaran-ajaran yang ada dalam al-Qur’an. Ajaran-ajaran tersebut termasuk diantaranya tentang kepemimpinan. Seseorang yang hendak mengajarkan kepemimpinan, ia harus menjadikan kehidupan nabi sebagai rujukan.
Selain meneladani akhlak nabi kita pun di anjurkan untuk meneladani akhlak para sahabat dan ulama salapus soleh yang selalu mengimplementasikan ajaran-ajaran Rasulullah dalam setiap keadaan. Cara meneladani akhlak mereka tentunya tidak dapat dilakukan secara langsung melainkan dengan mempelajari sejarah, biografi dan karya mereka. Dengan cara seperti itu kita dapat meneladni sipat-sipat mereka.
Selain itu, untuk implementasi dilapangan kita dapat melakukan al-qudwah dengan cara magang dengan seorang pemimpin yang berpengaruh, melihat sikap dan perilakunya. Menurut Jamal Madhi (2004:12) melakukan proses al-qudwah dengan metode magang akan timbul dua catatan yaitu :
Pertama : Bahwa kesalahan dapat saja berpindah secara terselubung yang terkadang dapat membunuh atau menghancurkan, karena ketidak mampuan sosok yang dilatih. Ini merupakan tanggung jawab sang tokoh.
Kedua : Merealisir apa yang dinamakan personifikasi (Asy-Syahshaniyah) yang merupakan penjelmaan potret pimpinannya. Oleh karena itu, kita tidak dikatakan telah mendidik seorang pemimpin baru, tetapi itu seperti seseorang yang berhenti berjalan untuk beberapa saat dan tidak dapat melangkah walau satu langkah serta kita tidak tahu penyebabnya. Karena kita hanya menjiplak seorang pemimpin teladan secara bulat dengan seluruh aspek positip maupun negatipnya.
3. Latihan berorganisasi
Untuk mengajarkan dan mewariskan kepemimpinan dapat juga dilakukan dengan cara latihan berorganisasi. Dalam sebuah oraganisasi seseorang yang menjadi anggota organisasi dapat belajar tentang implementasi kepemimpinan secara langsung, dintaranya :
1. Latihan Menerima Dan Menjalankan Sebuah Peran Atau Tugas
Dalam organisai mungkin ia akan berperan sebagai ketua, sekretaris ataupun peran lainnya yang harus kita jalankan. Peran-peran tersebut harus ia jalankan dengan penuh tanggung jawab karena kalau ia tidak menjalankan peran tersebut dengan baik, seluruh komponen organisasi akan mengalami kerugian akibat kelalaian yang ia lakukan. Dengan cara seperti ini, akan timbul kesadaran tentang pentingnya tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan peran dan tugas yang kita emban dalam organisasi. Dengan latihan berperan dengan penuh tanggung jawab akan muncul pada dirinya sipat amanah.Sipat amanah merupakan sipat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
2. Latihan Bersikap
Caraini merupakan cara yang lebih spesipik dari cara yang pertama yaitu dengan cara pemberian tanggung jawab pada seseorang untuk memimpin sebuah diskusi, mengurus kepanitiaan, mengelola pekerjaan atau melaksanakan suatu tugas penting. Ia dipantau oleh panitia khusus yang mengevaluasi, memperbaiki atau mempersiapkan kader pemimpin tersebut untuk mengikuti kursus kepemimpinan, sehingga dijamin ia dapat merealisasikan dua hal :
1.Memiliki kemahiran memimpin
2.Mampu mentransfer informasi
Dari Ath-Thabrani : seseorang berkata: “Rasulullah saw menugaskan seorang sahabat untuk memimpin sebuah pasukan kavaleri. Setelah selesai ia kembali dan Rasulullah saw bertanya kepada nya : ”Bagaimana engkau mendapatkan kepemimpinan itu ?” Ia berkata: “aku seperti sebagian kaum. Jika aku menaiki kendaraanku, mereka ikut naik, dan jika aku turun mereka ikut turun.” Maka Nabi saw bersabda : ”sesungguhnya kekuasaan itu berada diambang kesulitan, kecuali orang yang dipelihara Allah.” Dan lelaki itu berkata : “Demi Allah aku tidak akan mau lagi bekerja (sebagai pemimpin) untukmu atau orang lain.” Lalu tersenyumlah Rasulullah saw hingga terlihat gerahanya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa lelaki itu adalah Miqdad bin Al-Aswad ra (Al Haitsami 5/201)
Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah saw selalu memotipasi para sahabatnya untuk memimpin melalui sikap dan beliau selalu mengontrol perkembangannya.
Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan kepemimpinan. Setiap cara sudah tentu akan memeiliki kelemahan dan kelebihan masing. Kita tidak dapat memlih hanya satu cara dalam mengajarkan kepemimpinan tetapi kita harus menggabungkan berbagai cara dalam mengajarkan kepemimpinan sehingga akan terbentuk kader pemimpin sesuai dengan yang diharapkan.
KESIMPULAN
1.Pengertian kepemimpinan secara umum adalah upaya untuk mempengaruhi dan pemberdayaan sekelompok orang agar berhasil mencapai suatu sasaran bersama. Seorang pemimpin harus mampu memberdayakan seluruh potensi yang ada pada orang yang dipimpinnya, menetapkan tujuan yang akan diraih dan harus mampu melakukan pengontrolan dalam upaya pencapaian tujuan tersebut.
2.Makna hakiki kepemimpinan menurut ajaran islam adalah untuk mewujudkan kekholifahan dibumi dengan melakukan perbaikan dan reformasi. Dalam ajaran islam kepemimpinan harus diimplementasikan walaupun dalam ruang lingkup yang sangat kecil. Kepemimpinan yang sukses menurut konsensus para ulama adalah yang mampu mempengaruhi perilaku individu-individu, untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target jamaah, mngembangkan, memegang teguh, dan menjaga kekuatan bangunan jamaahnya.
3.Kepemimpinan merupakan sebuah keahlian yang dapat diajarkan dintaranya dengan cara : Pengenalan nilai-nilai leadership dalam agama, meneladani para tokoh dan belajar berorganisasi.
Daftar Rujukan :
1.Andrias Harefa. Menjadi Mnausia Pembelajar - On Becoming A Learner-. Jakarta: Kompas, Agustus, 2000
2.Jamal Madhi. Menjadi Pemimpin Yang Efektif Dan Berpengaruh, Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam. Bandung : PT Syamil Cipta Media, Januari, 2004
3.Adullah Ibnu Qassim Al-Wahsi. Menyelami Sanudra 20 Prinsip Hassan Al-Banna. Lawean: Era Inter Media, September 2001