Belajar adalah kata-kata yang sudah sering kita dengar sejak kita di taman kanak-kanak sampai kita di perguruan tinggi. Kata-kata belajar tidak pernah hilang dari pendengaran kita. Pengertian belajar yang kita fahami selama ini mungkin hanya diartikan sebagai rutinitas sekolah seperti membaca, menulis, mengerjakan tugas, kerja kelompok dan yang lainnya. Belajar juga sering diartikan hanya transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan).
Menurut beberapa ahli, pengertian belajar apabila dimaknai lebih dalam mempunyai arti yang sangat dalam. Belajar tidak sebatas pengerjaan rutinitas sekolah, atau tidak sekedar transfer pengetahuan. Menurut beberapa ahli belajar dapat didefinisikan sebagai “proses perubahan diri” dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak sopan menjadi sopan, dari tidak berdaya menjadi berdaya bahkan menjadi sumber daya. Menurut penulis, inilah pengertian belajar yang paling tepat. Apabila kita mendefinisikan pengertian belajar sekedar proses transfer pengetahun saja, ini akan berakibat pada tidak adanya kesadaran untuk melakukan perubahan pada diri sendiri apabila proses belajar telah kita tempuh. Kita merasa sudah cukup apabila berbagai pengetahuan sudah ada di otak kita dan kita tidak akan berupaya untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan inilah yang mengakibatkan tidak adanya perubahan diri setelah kita melakukan proses pembelajaran.
Apabila kita memahami belajar sebagai proses perubahan diri, ini akan berdampak pada pola belajar kita. Kita akan menganggap bahwa apabila pelajaran sudah kita kuasai itu bukan berarti kita sudah menguasai pelajaran tersebut, namun itu adalah awal bagi kita untuk melakukan proses perubahan diri dengan cara mengimplementasikan hal yang baru saja kita pelajari pada kehidupan nyata.
Apabila kita mencoba membuat klasifikasi tentang tipe belajar, kita dapat membagi belajar ke dalam dua tipe yaitu belajar tentang dan belajar menjadi. Dua tipe belajar ini dapat kita analogikan kepada contoh berikut. Seorang siswa mempelajari tentang sopan santun. Ia dapat menguasai semua teori tentang sopan santun sehingga di ulangan mata pelajaran sopan santun ia mendapat nilai 10. tetapi ketika ia bertemu dengan gurunya atau orang tuanya ia bertindak tidak sopan. Ini berarti siswa ini baru belajar tentang sopan santun belum belajar menjadi sopan dan menjadi santun. Apabila siswa ini sudah belajar menjadi sopan dan menjadi santun, maka selain dalam ulangan dia mendapat nilai 10, dia juga berlaku sopan pada orang tua, guru dan teman-temannya.
Belajar tentang dapat diartikan dengan mempelajari berbagai teori pengetahuan tanpa berusaha mengamalkan apa yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan belajar menjadi dapat diartikan dengan mempelajari berbagai teori ilmu pengetahuan disertai dengan kemauan keras untuk melaksanakan semua yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila kita kaitkan dengan keislaman kita, kita sering menjumpai bahkan mungkin diri kita yang termasuk tipe orang yang baru belajar tentang islam, belum belajar berislam. Orang yang baru belajar tentang Islam sangat mengusai semua teori tentang berbagai syariat Islam, tetapi berbagai ilmu tentang keislaman tersebut tidak membuat dirinya menjadi soleh dan menjadi lebih islami. Ilmu keislaman yang ia peroleh ia jadikan sebagai modal untuk mencari popularitas di kalangan manusia bahkan ia menjadi sombong dan merendahkan orang lain dengan ilmu keislamannya. Sementara orang yang belajar berislam, bisa jadi pengetahuan keislamannya masih sedikit tetapi ia berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan apa yang telah ia pelajari dalam kehidupan kesehariannya. Ia tidak pernah meminta dan mengharap keridoan manusia tetapi yang ia harapkan hanyalah keridoan Allah Robb semesta alam.
Menurut Hernowo, penulis buku Self Digesting, manusia dalam mencari ilmu terbagi ke dalam dua tipe. Ada yang mencarinya dengan hati yang melenceng dari fitrahnya, banyak melakukan maksiat, sering sombong dan lain sebagainya. Sehingga ketika ia menguasai ilmu tersebut maka ilmu itu tidak menjadi cahaya bagi dirinya dan ia menjadi sombong dengan ilmunya. Tipe kedua adalah orang yang mencari ilmu dengan tetap berpegang pada fitrahnya sebagai seorang hamba, ia mencarinya dengan ikhlas dan penuh ketulusan. Apabila tipe orang kedua ini mendapatkan ilmu, maka ilmunya akan menjadi cahaya bagi dirinya dan mencerahkan dirinya sehingga dengan ilmu yang ada pada dirinya ia tidak menjadi sombong tetapi ia semakin rendah hati dan semakin terpacu untuk mengamalkan apa yang sudah ia pelajari.
Orang yang belajar tentang islam, sering mencari ilmu dengan modal kesombongan sehingga ketika ilmu-ilmu keislaman ada pada dirinya, ia sama sekali tidak tercerahkan dengan ilmunya dan ia juga tidak berupaya untuk merubah dirinya supaya lebih islami bahkan ia menjadi sombong atas ilmunya. Apabila ia berinteraksi dengan orang lain, sering kali ia merendahkan orang yang berinteraksi dengannya. Sementara orang yang belajar menjadi Islam, ia mempelajari ilmu-ilmu keislaman dengan tetap berpedoman pada fitrahnya, ia selalu tulus dan sungguh-sungguh dalam belajar. Apabila ilmu keislaman tersebut sudah ada pada dirinya, ia akan semakin tercerahkan dengan ilmunya dan ia akan bermujahadah untuk selalu mengamalkan (menjadi) apa yang telah ia kuasai sehingga ia menjadi lebih islami dan lebih tawadhu.
Di manakah posisi kita ? apakah kita orang yang baru belajar tentang Islam atau orang yang belajar menjadi Islam.
Wallaahu a’lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar